A. Orientasi Umum

Tiga dasawarsa lampau, kebanyakan pemikir terbaik dalam psikologi berusaha meningkatkan ketepatan dan kuantifikasi menelusuri motif-motif tak sadar sampai ke lapisan dasarnya. Di tengah kecenderungan inilah, Gordon Allport dengan tenang mengikuti jalan pikirannya sendiri, mengemukakan pentingnya penyelidikan kualitatif tentang kasus individual dan menekankan motif sadar. Keengganan Allport untuk mengikuti arus pemikiran kontemporer ini kadang-kadang mengakibatkan perumusan-perumusannya kolot dan ketinggalan jaman. Tetapi dalam kesempatan lain ia tampil sebagai pelopor ide-ide baru dan sangat radikal. Meskipun ia berpandangan kolot, namun ia berhasil mengemukakan sintesis antara pemikiran psikologi tradisional dan teori kepribadian, dengan cara yang mungkin lebih baik dari pada yang pernah dilakukan oleh teoretikus alin di zamannya.

Pandangannya yang sistematis merupakan suatu penyaringan dan perluasan ide-ide yang sebagiannya berasal dari ahli-ahli psikologi seperti Gestalt, William dan Stern, William James, dan William McDougall. Dari teori Gestalt dan Stern munculah penolakannya terhadap teknik-teknik analitik yang lazim dalam ilmu pengetahuan alamiah dan perhatiannya yang mendalam terhadap keunikan individu serta kebulatan tingkah lakunya. Pengaruh James tercermin tidak hanya dalam gaya tulisan Allport, orientasinya yang luas dan relatif  humanistis terhadap tingkah laku, dan perhatiannya pada “aku” (self) tetapi juga dalam keraguannya tentang kemampuan metode-metode psikologi untuk menggambarkan dengan baik dan untuk benar-benar menyingkap teka-teki tingkah laku manusia. Sama seperti McDougall, Allport sangat menekankan pentingnya variabel-variabel motivasi, mengakui pentingnya peranan yang dimainkan oleh faktor-faktor genetik atau konstitusional, dan menggunakan secara mencolok konsep-konsep tentang “ego”. Allport sangat menghargai pesan dari masa lampau dan secara konsisten ia memperlihatkan kesadaran yang penuh dan simpati terhadap masalah-masalah klasik yang digeluti oleh para psikolog di dalam dan di luar laboratorium selama beberapa abad silam.

Gordon Allport sangat tidak sepakat dengan teori S.Freud mengenai manusia. Menurutnya, manusia adalah makhluk rasional, diatur oleh tujuan, harapan sekarang (masa kini) dan masa datang, bukan di masa lalu. Salah satu pendekatan yanng berguna terhadap terhadap pemahaman psikologis Allport mengemukakan tema–tema pokok dari teori kepribadian dan menunjukkan bagaimana tema–tema itu berbeda dari apa yang didapat pada Freud. Tema–tema tersebut adalah :

a) Allport tidak percaya bahwa orang yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan–kekuatan tak sadar yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi, tidak didorong oleh konflik tak sadar. Begitu pula dengan tingkah laku mereka, tidak ditentukan oleh hal atau kejadian yang ada di jauh dalam pandangan. Kekuatan-kekutan tak sadar itu hanya memepengaruhi orang yang neurotis. Individu yang sehat dan yang berfungsi pada tingkat rasional dan sadar, menyadari sepenuhnya kekuatan yang membimbing mereka, serta dapat mengontrol kekuatan–kekuatan itu

b) Kepribadian yan matang tidak dikontrol oleh taruma dan konflik masa kanak– kanak. Orang yang sehat dibimbing dan diarahkan pada masa sekarang, oleh intensi dan aspirasi – aspirasi masa depan, berpandangan optimis, tidak kembali pada msa lalu.

c) Antara orang yang sehat dan orang neurotis tidak ada kesamaan secara fungsional. Dalam pandangan Allport orang yang neurotis berada pada kehidupan konflik dan pengalaman anak–anak, sedangakan ornag yang sehat befungsi pada suatu taraf yang berbeda dan lebh tinggi.

d) Allport lebih memfokuskan mempelajari orang dewasa yang matang (berlawanan dengan tokoh psikologi yang lain) yang lebih fokus pada orang neurotis. Karena itu dapat dikatakan bahwa sistem dari Allport hanya berorientasi pada kesehatan.

Perbedaan antara Allport dengan tokoh psikologi sebelumnya, mengantrakan Allport untuk memeberikan definisi yang berbeda pula mengenai kepribadian. Menurutnya kepribadian adalah:

”Organisasi dinamik dalam sistem psikofisik individu yang menentukan penyesuaian yang unik dengan lingkungan. Suatu fenomena dinamik yang memiliki elemen psikologik dan fisiologik, berkembang dan berubah, memainkan peran aktif dalam berfungsinya individu”
Istilah organisasi dinamik, mewakili 2 pengertian, aitu kepribadian terus berkembang dan berubah dan dalam diri individu terdapat pusat organisasi yang mewadahi semua komponen kepribadian dan menghubungkan antara satu dengan yang lain, Sedangkan istilah psikofisik menyiratkan bahwa kepribadian bukan hanya sebuah konstruk hipitetik, akan tetapi merupakan fenomena nyata, merangkum elemen mental, neural, disatuakan dengan unitas kepribadian. Istilah determine menegaskan bahwa kepribadian adalah sesuatu yang mengerjakan sesuatu; tidak hanya konsep yang menjelaskan tingkah laku, tapi bagian dari individu yang berperan aktif dalam tingkah laku orang tersebut.

  B. Gambaran Mengenai Pendirian Allport

Oleh karena daerah kerjanya yang begitu luas, maka sebenarnya tidaklah mudah untuk menandai sifat-sifat khas dari pendiriannya. Namun hal tersebut dapat juga dilakukan.

Tulisan-tulisannya selalu menunjukkan usaha untuk mementingkan sifat kompleks dan khas (unik) dari pada tingkah laku manusia. Sifat kompleks dan beragam itu mempunyai dasar kebulatan atau kesatuan (unitas). Setidak-tidaknya bagi individu normal, faktor-faktor sadar yang menentukan tingkah laku adalah yang terpenting. Kebulatan tingkah laku dan pentingnya dorongan sadar ini yang menyebabkan Allport mementingkan gejala yang disebutnya self dan ego. Selaras dengan tekanannya terhadap faktor-faktor rasional itu ialah keyakinannya bahwa indidvidu adalah lebih merupakan makhluk masa kini dari pada makhluk masa lampau. Konsepnya tentang “otonomi fungsional” adalah merupakan  usaha yang teliti untuk membebaskan ahli teori atau penyelidik dari sikap menomor satukan  sejarah organisme yang sebenarnya tidak perlu. Secara umum dapat dikatakan, bahwa pandangannya adalah mengenai manusia dimana unsur-unsur dorongnan sadar diutamakan, dan tingkah laku dipandang sebagai hal yang dari dalam selaras dan ditentukan oleh faktor-faktor masa kini.

Bagi Allport tidak ada kontinuitas secara normal dan tak normal; antara anak dan orang dewasa, antara manusia dan hewan. Teori seperti psikoanalisis mungkin sangat berguna untuk tingkah laku yang tak normal, akan tetapi sedikit sekali gunanya untuk menghadapi tingkah laku yang normal. Demikian juga teori-teori yang besar faedahnya bagi tingkah laku anak tidak tepat jika dipakai untuk menghadapi tingkah laku orang dewasa. Allport selalu menentang peminjaman pengertian-pengertian dari bidang-bidang ilmu pengetahuan alamiah. Menurutnya metode penelitian serta susunan (model) teoritis yang terbukti berguna dalam ilmu alam mungkin bisa menyesatkan dalam penelitian tentang tingkah laku manusia yang kompleks itu. Dalam bukunya “Scientific Models and Human Morals” (1947) ia mengemukakan bahwa dengan memakai model mesin, hewan, anak-anak, tidak didapatkan dasar yang cukup kuat untuk menyusun teori yang  bermanfaat mengenai tingkah laku manusia. Selaras dengan ketidaksenangannya terhadap peminjaman ini adalah keyakinannya bahwa pengutamaan yang terlalu pagi terhadap pentingnya operasionisme, yaitu usaha terperinci untuk menentukan operasi-operasi pengukuran yang dituntut oleh setiap konsep empiris, dapat menghambat kemajuan psikologi.

Penerapan metode dan penemuan-penemuan psikologi di dalam situasi nyata, dimana usaha dilakukan untuk memperbaiki keadaan sosial yang tak diinginkan merupakan hal yang sangat dipentingkan oleh Allport. Bertahun-tahun ia menentang pembatasan kegiatan psikologi di dalam dinding-dinding laboratorium, dan karya-karya penelitiannya tentang prasangka dan hubunga-hubungan internasional merupakan contoh penerapan psikologi pada persoalan-persoalan kemasyarakatan (sosial). Sikapnya yang mementingkan sifat-sifat khas serta individualitas tingkah laku manusia menimbulkan pesimisme terhadap kemungkinan yang terdapat dalam metode dan teori psikologi untuk membongkar teka-teki tingkah laku manusia yang kopleks itu.

Allport menyatakan bahwa karyanya terutama ditunjukkan pada masalah-masalah empiris dan tidak untuk mendapatkan suatu kesatuan metodologi dan teori. Baginya kepribadian adalah masalah yang harus dihadapi dengan cara yang sebaik mungkin yang dapat dipergunakan dewasa ini, karena itulah maka ia memperhatikan soal desas-desus, radio, prasangka, kepercayaan, sikap dan lain-lain tentang persoalan manusia. Terhadap soal-soal tersebut dilakukannya pembahasan yang agak eklektis, karena ia hanya ingin mempergunakan mana yang sekitarnya paling baik menurut pengetahuan orang dewasa ini.

D. Struktur dan Dinamika Kepribadian
Struktur kepribadian ini dinyatakan dalam sifat-sifat (traits) dan tingkah laku juga didorong (dimotivasikan atau digerakkan) oleh sifat-sifat itu. Jadi struktur dan dinamika pada umumnya sama. Sikap eklektis Allport nyata sekali dalam banyak konsepsi (pengertian) yang diterimanya sebagai sesuatu yang berguna untuk memahami tingkah laku manusia. Allport berpendapat bahwa konsep-konsep sempit seperti refleks-refleks khusus, konsep-konsep umum seperti sifat-sifat kardinal atau proprium (aku), penting untuk memahami tingkah laku, dan ia juga malihat proses-proses yang dinyatakan oleh konsep-konsep ini bekerja dalam organisme secara hierarkis, sehingga konsep yang lebih umum biasanya mendahului konsep yang lebih khusus. Dalam pernyataan-pernyataan yang sangat terinci tentang teorinya, Allport mengemukakan bahwa masing-masing konsep berikut ini memiliki kegunaan tertentu: refleks bersyarat, kebiasaan, sifat, aku, dan kepribadian.
Meskipun semua konsep di atas diterima dan dianggap penting, namun tekanan utama teorinya diletakkan pada sifat (traits), sedangkan sikap (attitudes) dan intensi (intentions) diberinya kedudukan yang hampir sama. Karena itu, teori Allport sering kali disebut sebagai psikologi sifat (traits psychology). Dalam teori ini sifat-sifat merupakan konstruk motivasi yang utama. Sifat pada Allport dapat disamakan dengan kebutuhan (need) pada Murray, insting pada Freud, dan sentimen pada McDougall.

1. Kepribadian, Watak, dan Temperamen
a) Kepribadian
Kepribadian adalah organisasi dinamik dalam individu atas sistem-sistem psikofisis yang menentukan penyesuaian dirinya yang khas terhadap lingkungannya. Pernyataan “Organisasi Dinamik” menekankan kenyataan bahwa kepribadian itu selalu berkembang dan berubah meskipun terdapat sistem yang mengikat dan menghubungkan berbagai komponen dari kepribadian. Istilah psikofisis menunjukkan bahwa kepribadian bukanlah semata-mata mental, tapi juga kerja tubuh dan jiwa dalam kesatuan pribadi. Istilah “psikofisis” menunjukkan bahwa kepribadian mempunyai eksistensi real yang menyangkut segi-segi neural atau segi-segi fisiologis. Organisasi mengisyaratkan beroperasinya badan dan jiwa, berpadu secara tak terisahkan menjadi kesatuan pribadi (1937, hlm 48). Istilah “menentukan” menjelaskan bahwa kepribadian terdiri dari kecenderungan-kecenderungan menentukan yang memainkan peranan aktif dalam tingkah laku individu. Kata “khas” menunjukkan perbedaan penyesuaian diri seorang dengan individu lain dan tidak ada individu yang mempunyai kepribadian yang sama. “Kepribadian adalah sesuatu dan berbuat sesuatu …. Kepribadian adalah apa yang terletak di balik perbuatan-perbuatan khusus dan di dalam individu” (1937, hlm 48).
Kepribadian manusia adalah produk dari hereditas dan lingkungan Hereditas: fisik, inteligensi, temperamen (fluktuasi dan intensitas mood). Faktor hereditas berfungsi sebagai bahan dasar yang nantinya dibentuk (dikuatkan atau dilemahkan) oleh kondisi di lingkungannya. Kepribadian bersifat idiografik (tiap pribadi adalah unik dan tidak dapat dibandingkan dengan orang lain)
Apa yang telah dikatakan hingga kini menjalaskn bahwa bagi Allport kepribadian bukan hanya suatu konstruk dari, pengamat dan bukan juga sesuatu yang ada hanya bila terdapat orang lain yang bereaksi terhadapnya. Jauh dari itu kepribadian mempunyai eksistensi real yang menyangkut segi-segi neural atau segi-segi fisiologis. Ketelitian dan kejituan Allport dalam merumuskan definisinya tetang kepribadian terbukri dari seringnya para teoritikus dan peneliti-peneliti lain meminjam definisi itu.

Contoh Perilaku :
Seseorang memiliki kepribadian yang matang menurut Allport memiliki hal-hal dibawah ini. Berikut contoh perilakunya :
1. Ekstensi sense of self
Seorang mahasiswa semester akhir yang telah masuk dalam masa dewasa awal, berusaha untuk memperluas “link” agar mereka bisa memperluas pergaulan mereka, sehingga dengan mengenal berbagai macam orang mahasiswa itu belajar ubtuk lebih mengerti minat orang lain dan mengerti minatnya sendiri. Misalnya saja dalam hal pekerjaan yang akan ia geluti nanti. Dengan begitu ia mulai mempunyai rencana masa depan, apa yang ingin ia lakukan demi masa depannya.
2. Hubungan hangat/akrab dengan orang lain
Seseorang yang telah masuk ke masa dewasa awal dan madya pasti berusaha mencari kedekatan dengan lawan jenis, itu semua dilakukan untuk membina hubungan dengan orang lain. Seperti mencari pasangan hidup, serta meminta persetujuan keluarga atas pilihannya.
3. Penerimaan diri
Dalam masa ini emosi seseorang tidak lagi meluap-luap, misalnya saja ia diputus oleh kekasihnya, ia akan lebih bisa mengontrol diri, tidak mudah frustasi dalam menghadapinya.
4. Pandangan-pandangan realistis, keahlian dan penugasan
Bila seseorang mengalami masalah, misalnya saja masalah yang cukup besar dikantor, maka ia harus dapat mengatasinya tanpa panik atau malah merusaknya, ia pun sudah bisa memilih mana tugas yang cocok untuknya dan mana yang tidak.
5. Objektifikasi diri: insight dan humor
Contoh perilakunya adalah empati, kita harus bisa menempatkan diri di posisi orang lain, agar bisa diterima oleh masyarakat, kita tidak menjadi seseorang yang teralu subyektif. Dan juga dalam hidup ini kita butuh hiburan, seperti tv yang berisi acara komedi misalnya, itu tidak hanya dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditertawakan, tetapi lebih agar kita bisa melihat keanekargaman manusia.
6. Filsafat Hidup
Seseorang yang mulai dewasa, ia pasti telah memiliki patokan dalam hidupnya, misalnya saja pemuda islam, ia pasti telah menaati perintah islam, dan menjadikan itu semua sebagai falsafah hidup maupun pegangan hidupnya.

b) Watak (karakter)
Meskipun istilah kepribadian dan watak sering digunakan secara bertukar-tukar, namun Allport menunjukkan bahwa watak mengisyaratkan norma tingkah laku tertentu atas dasar nilai dari perbuatan-perbuatan individu. Jadi dalam menggambarkan watak individu, kata “baik” dan “buruk” seringkali dipakai. Allport berpendapat bahwa watak adalah suatu konsep etis dan menyatakan bahwa “kami lebih suka mendefinisikan watak sebagai kepribadian yang dievaluasi, sedangkan kepribadian adalah watak yang didevaluasi” (character is personality evaluated and personalityin character devaluated. 1961, hlm 32).

c) Temperamen
Temperamen adalah disposisi yang sangat erat hubungannya dengan faktor-faktor biologis atau fisiologis dan karenanya sedikit sekali mengalami perubahan dalam perkembangan. Peranan keturunan atau dasar disini lebih penting/besar daripada segi-segi kepribadian yang lain. Bagi Allport temperamen adalah bagian khusus dari kepribadian yang diberikan definisi demikian:
“Temperamen adalah gejala kerakteristik daripada sifat emosi individu, termasuk juga mudah tidaknya terkena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya bereaksi, kualitas kekuatan suasanan hatinya, fluktuasi dan intensitas suasana hati; gejala ini tergantung pada faktor konstitusional dan karenanya terutama berasal dari keturunan.” (Allport, 1951, p. 54).
2. Sifat (Trait)
Sifat adalah tendens determinasi atau predisposisi. Sifat adalah sistem neuropsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk menghadapi stimulus dan memulai serta membimbing tingkah laku adaptif dan ekspresif secara sama. Tekanan terhadap individualitas dan kesimpulan bahwa kecenderungan itu tidak hanya terikat pada sejumlah kecil stimulus atau reaksi, melainkan seluruh pribadi manusia. Pernyataan “sistem neuropsikis” menunjukkan jawaban affirmatif yang diberikan oleh Allport terhadap pertanyaan apakah “trait” itu benar-benar ada pada individu. Karakteristik Sifat (Traits):
• Keberadaannya nyata ada dalam diri tiap manusia (tidak hanya teoritis/label)
• Trait menentukan atau menyebabkan perilaku (tidak hanya muncul karena ada stimulus)
• Trait dapat dibuktikan secara empiris (dari perilaku yang menetap)
• Trait tidak terpisah betul satu sama lain (ada overlap)

Berikut perbedaan sifat dengan beberapa pengertian yang lain;
a) Kebiasaan (habit)
Sifat (trait) dan kebiasaan (habit) kedua-duanya adalah tendens determinasi, akan tetapi sifat lebih umum baik dalam situasi yang disamainya maupun dalam respon yang terdapat di dalamnya.
b) Sikap (attitude)
Sikap maupun sifat adalah konsep-konsep yang sangat penting dalam psikologi. Sikap juga merupakan predisposisi yang mungkin juga bersifat khas yang bisa memulai atau mengarahkan tingkah laku dan merupakan hasil dari faktor genetik dan belajar. Namun terdapat perbedaan antara keduanya. Pertama, sikap berhubungan dengan suatu objek sedangkan sifat tidak. Jadi, cakupan sifat lebih besar daripada sikap. Namun makin besar jumlah objek, maka sikap akan semakin mirip dengan sifat. Sikap dapat berbeda-beda dari yang lebih khusus ke yang lebih umum, tetapi sifat selalu umum. Kedua, sikap biasanya mengandung penilaian (menerima atau menolak) terhadap objek tujuannya, sedangkan sifat tidak.
c) Tipe
Allport membedakan antara sifat dan tipe berdasar sejauh mana keduanya dapat dikenakan pada individu. Seseorang dapat memiliki sutau sifat tetapi tidak dapat memiliki suatu tipe. Tipe adalah konstruksi ideal oleh seorang pengamat dan individu dapat disesuaikan ke dalam tipe-tipe itu dengan konsekuensi diabaikannya sifat-sifat individual. Sifat dapat mencerminkan sifat khas/keunikan pribadi, sedangkan tipe malah menyembunyikannya. Jadi bagi Allport tipe menunjukkan perbedaan-perbedaan buatan yang ridak begitu cocok dengan kenyataan, sedangkan sifat adalah refleksi sebenarnya/cerminan sejati dari apa yang benar-benar ada.
Tipe menunjukkan perbedaan (buatan) yang tidak selalu cocok dengan kenyataan, trait merupakan refleksi kenyataan yang ada pada individu. Tipe merangkum ketiga konsep yang lain, menggambarkan kombinasi trait-habit-attitude yang secara teoritik dapat ditemui pada diri seseorang Misal: siswa yang memiliki tipe introvert, mempunyai trait: pasif-menolak mengikatkan diri dengan lingkungan eksternal (kecenderungan umum), salah satu habitnya adalah duduk di tempat terpisah/menyendiri (kebiasaan khusus di kelas), dan attitude tidak ramah, kurang bisa bergaul (mengandung penilaian).

Kategori Sifat (Traits):

a. Individual/personal traits/personal dispositions.

Sifat yang konkret, mudah dikenali dan konsisten pada diri seseorang yang dapat menggambarkan karakter asli mereka. Pada kenyataannya tidak ada dua individu yang persis sama sifatnya

b. Common traits/traits:

       Sifat-sifat yang merupakan bagian dari budaya (dapat dipahami dan dimiliki oleh hampir semua orang yang hidup dalam budaya tersebut). Common trait merupakan hasil dari dorongan sosial untuk berperilaku dangan cara tertentu. Contoh: introvert vs extrovert; liberal vs konservatif

Disposisi Kardinal (sifat pokok), Disposisi Sentral (sifat sentral), dan Disposisi Sekunder (sifat sekunder)

  1. Disposisi Kardinal/pokok: Ini adalah sifat  (sangat dominan) yang menggambarkan hidup mereka karena perilaku individu biasanya terdorong/diatur oleh sifat ini.  Begitu umum sehingga pengaruhnya dapat ditemukan hampir setiap kegiatan individu yang memilikinya. Contoh: Joan Arc (self-sacrifice yang gagah berani), Bunda Teresa  (layanan ibadah),  Machiavelli ( kebengisan politis). Hanya sedikit orang yang mengembangkan cardinal trait, kalaupun ada orang cenderung mengembangkannya di usia paruh baya
  2. Disposisi Sentral: kecenderungan karakter yang kuat, khas/ sering berfungsi/ mudah ditandai pada seseorang, , cenderung digunakan kata sifat yang mencerminkan central trait ini, misal:pandai, bodoh, liar, pemalu, culas, lamban.
  3. Disposisi Sekunder: Berfungsi terbatas, kurang menentukan dalam deskripsi kepribadian dan lebih terpusat pada respon yang dicocokinya. Sifat yang tidak terlalu jelas, tidak terlalu umum/tidak terlalu konsisten seperti  pilihan, sikap, sifat yang situational. Contoh: C mudah marah jika ada orang yang mencoba menggelitik dia

SIFAT-SIFAT EKSPRESIF

Sifat-sifat ekspresif ini merupakan disposisi yang memberi warna atau mempengaruhi bentuk tingkah laku, tetapi tidak mempunyai sifat mendorong. Contoh sifat-sifat ekspresif ini ialah melagak, ulet, dan sebagainya.

KEBEBASAN SIFAT-SIFAT

Allport berpendapat bahwa sifat dapat ditandai bukan oleh sifat bebasnya yang kaku tapi terutama oleh kualitas memusatnya. Jadi sifat cenderung untuk mempunyai pusat dan disekitar itu pengaruhnya berfungsi. Kebebasan sifat-sifat umum yang didefinisikan secara sekehendak merupakan salah satu dari kelemahannya sebagai representasi yang tepat daripada tingkah laku.

INTENSI

Intensi lebih penting dari penyelidikan mengenai masa lampau, penyelidikan ini mengenai keinginan individu di masa depannya. Istilah intensi digunakan dalam arti meliputi pengertian: harapan-harapan, keinginan-keinginan, ambisi, atau cita-cita seseorang. Teori Allport menunjukkan bahwa apa yang akan dilakukan seseorang merupakan kunci dan hal yang terpenting bagi apa yang dikerjakannya sekarang.

About Gebrielleizious

Hello My Name is Gabriella Yudithia I was born in August 12 I'm student in Widya Mandala University-Madiun NICE TO MEET YOU.... :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s