Teman” BK WIMA Semetster 4 yg butuh contoh urutan laporan untuk makul Kesehatan Mental bisa Lihat di bawah ini

Asli dari Bu Dhanis Low,,bkan gw yg buat..😀

TUGAS WAWANCARA

  1. Guru yang Bersangkutan
    1. Identitas Guru yang Bersangkutan :
      1. Nama                                  : Saiful Arwani
      2. Tanggal lahir                       : 30 Maret 1985
        1. Alamat rumah                     : Ds. Waduk RT 2/RW 11 Kec. Takeran, Kab. Magetan
    2. Guru mata pelajaran           : TIK (Teknologi, Informasi, Komunikasi)
    3. Saudara                               : 3 (anak pertama dari 3 bersaudara)
    4. Status                                  : Lajang
    5. Nama orang tua                  : – Ayah   : Sarni Tohpandi

– Ibu      : Sukarmi

  1. Alamat sekolah mengajar   : SMK PGRI Wonoasri, Jl. Thamrin 48 Caruban
  2. Hasil Wawancara :

Menurut penuturan pak Saiful: Saya dulu kuliah di D3 Politeknik Madiun, Jurusan Komputer. Setelah lulus D3 saya melamar ke SMK PGRI Wonoasri sebagai teknisi, setelah 1 tahun menjadi teknisi di SMK, saya membantu sebagai tenaga pengajar TIK, karena kekurangan tenaga di SMK ini. Sebenarnya ada tuntutan dari Kepala Sekolah agar saya melanjutkan S1, dan sampai saat ini saya melanjutkan tetapi masih belum selesai. Dalam penyelesaian Tugas Akhir saya, yang menghambat dalam penyelesaian sampai 1 tahun setengah ini tidak lain karena pengaturan waktu saya, misalnya begini: Saya mengajar di sini pag- – sore, kadang sampai rumah jam 5 sore, istirahat sebentar habis itu saya mengontrol bahan material/kekurangan-kekurangan yang dibutuhkan pada usaha yang saya dirikan, waktu saya sangat padat untuk mengurus hal-hal di sekolah, di rumah, sehingga Tugas Akhir saya terbengkalai. Alasan saya mendirikan bisnis sampingan di luar jam sekolah/pengajaran tidak lain karena saya punya 2 orang adik, adik kedua saya kuliah di Universitas Merdeka semester 4, adik nomer 3 saya SMP kelas 2, dan saya sebagai anak pertama, saya mempunyai tugas embatu dalam hal biaya adik-adik saya, karena saya tahu sebenarnya kondisi orang tua saya hanya buruh tani, tapi saya bersyukur saya bisa menjadi sekarang ini tidak lain karena dukungan dan doa orang tua saya, jadi saya sudah terbiasa sejak saya kuliah pertama kali saya mencoba bisnis kecil-kecilan untuk membantu meringankan beban orang tua saya dan mencukupi kebutuhan adik-adik saya, meskipun saya agak terbengkalai dalam pengaturan waktu saya. Selama perjalanan karir saya ini orang tua saya tidak mengharuskan atau mengatur dalam hal pekerjaan, semuanya dipsrahkan/dipercayakan pada saya. Karena standar tenaga guru harus S1 mau tidak mau saya harus menyelesaikannya.

Kalau hambatan dalam hal pekerjaan saya terutama dalam hal pengajaran, karena pada awalnya saya cenderung ke swasta karena dulu saya ambil D3. Karena ada tuntutan dandemi standarisasi tenaga pendidik minimal S! saya menyesuaikan meski tertunda sampai sekarang. Masalah pengajaran saya agak kurang bisa dalam cara menyampaikan materi pengajaran saya, tetapi saya juga sering “sharing” dengan guru-guru dari tenaga FKIP biasanya lebih tahu, saya minta bantuan meski dalam metode pengajaran saya 80% praktikum karena komputer kalau tidak praktik tidak mungkin siswa cepat bisa, teori hanya 20%, karena anak cenderung capek kalau diisi dengan teori waktu pelajaran TIK, meski kadang diisi dengan teori, karena keterbatasan fasilitas dan sarana di sini. namun meski saya sebenarnya bukan dari keguruan tapi di sini saya belajar kekurangan/kelebihan dari murid-murid saya dari penilaian saya setiap hari dan mengetahui kemampuan murid-murid saya pada waktu praktik, karena praktik lebih aplikatif.

Namun sebagai guru juga manusia juga mengalami kejenuhan pada waktu proses pengajaran misalnya saja pada waktu anak pasif, seperti yang saya jelaskan di awal tadi murid merasa malas dalam pelajaran saya disebabkan karena sarana dan fasilitas yang kurang memadai, karenanya biasanya saya memberikan tugas lewat email, karena kurangnya lab komputer yang tersedia di sini dan dalam metode pengajaran saya, seumpama ada anak yang tidak mengerjakan tugas saya beri peringatan misalnya nilainya saya buat kosong, dengan begitu anak akan cenderung mau mengerjakan karena anak akan berfikir kalau nilainya kosong dia tidak naik kelas. Dan biasanya pada waktu ujian dibuat 2 sip dan dibuat dua software. Sehingga di depan komputernya dapat digunakan keseuruhan. Dan pada waktu murid-murid saya tidak memperhatikan saya pada waktu proses pengajaran, saya sedikit kehilangan mood saya dalam kelas, dan saya juga tidak munafik sebagai seorang guru untuk mengatasinya saya lebih pada web’s, karena bagi saya TIK dunia komputer, internet itu menyenangkan dan lebih tidak mood lagi pada waktu teori TIK anak tidak memperhatikan pada waktu saya memberi penjelasan, ditambah lagi saya dulunya bukan jurusan keguruan seperti yang saya jelaskan di atas tadi.

Pengalaman saya selama mengajar 2 tahun dan menjadi tenaga teknisi selama satu tahun di SMK ini, pada waktu pertama adaptasi memang ada perbedaan-perbedaan pendapat dengan guru lain, tapi itu relatif dalam artian biasa, tetapi intinya perbedaan yang baik yang mengarah pada suatu hal yang lebih baik. Misalnya saja: saya mengajar TIK cenderung praktek, tetapi guru lain lebih dalam metode ceramah/persentasinya, jadi ada semacam perbedaan pandangan antar guru. Namun ada juga guru yang akrab dengan saya, tetapi menurut saya pribadi memang saya punya teman akrab/sejawat saya tidak mau masalah pribadi saya, saya bercerita pada orang lain termasuk teman sjawat saya, karena saya tertutup orangnya dan sampai saat ini saya bisa menyelesaikan masalah pribadi saya sendiri, karena mungkin saya laki-laki. Jadi permasalahan tidak serumit wanita. Termasuk dalam mengejar bisnis-bisnis saya yang belum saya tangani karena kurang dalam pengaturan waktu saya. Jadi saya akan mencoba hal lain dalam dunia di luar fak saya, karena menurut saya mencoba hal baru itu sangat menyenangkan, ada tantangan tersendiri di dalamnya sehingga membentuk saya menjadi pribadi yang tidak gampang menyerah dan putus asa, meski di dalam pribadi saya juga ada kekurangan.

Mengenai tenaga pengajar di SMK ini 75% masih muda dalam artian masih belum menikah/single. Sebenarnya ada permasalahan pribadi antara murid dan tenaga pengajar, misalnya saja: ada salah satu guru di sini suka dengan muriddi SMK ini meski peraturan di sini ataupun berlaku di sekolah-sekolah lain guru dalam waktu bekerja harus memberi batasan pada murid dalam hubungan pribadi murid dan guru, namun tidak dipungkiri guru juga manusia biasa yang mempunyai perasaan menyukai lawanjenis, dan terpaksa hubungan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dalam artian pada waktu di sekolah berlagak guru itu tidak ada hubungan apa-apa padahal sebenarnya ada. Jadi menurut saya, pintar-pintar saja guru itu berperan akting/menutupi. Ada juga siswa di sini juga suka pada gurunya sampai nulis pesan cintanya di papan tulis buat gurunya, tetapi saya pribadi akan saya beri batasan-batasan, dengan begitu anak akan menjadi tahu.

Mengenai orang tua murid ada yang biasanya datang ke sekolah memberikan bingkisan pada saya/guru-guru yang lain supaya anaknya diperlancar dalam nilai/berhubungan dengan pengajaran. Biasanya guru-guru lain tidak diterima, tapi kalau saya pribadi ya saya terima, karena metode pemberian nilai dalam pelajaran saya tidak berpengaruh dari pemberian tadi anak bodoh ya bodoh atau nilai jelek yang jelek, pintar ya pintar. Saya tidak menolak rejeki. Tetapi ada juga dalam metode pemberian nilai pada murid yang saya anut sampai sekarang ini, misalnya saja murid aktif bisa saya ajak kerja sama, selalu masuk mereka akan mendapat nilai + (plus), meski dalam nilai ulangan kurang memuaskan, tapi ada tambahan buat mereka. Namun dalam peraturan saya pada waktu ulangan teori dan praktek supaya tempatnya cukup ulangannya dibagi 2, sebagian teori dan sebagian lagi praktek, yang teori tidak boleh buka buku karena menurut saya kalau dia praktek pasti dia mengerjakan, tapi kalau ada anak yang sampai ketahuan nyontek pada waktu ulangan akan saya ganti menggunakan kertas kosong lagi namun kalau ketahuan nyontek lebih dari 2X langsung saya keluarkan. Tidak ada alasan lagi, karena anak remaja sekarang tidak mau serius kalau tidak dibuat ketat maunya anak santai terus. Namun kalau ujian praktek anak gak bisa biasanya anak langsung keluar ruangan dan dengan sigap saya mengganti dengan murid lain untuk mengisinya.

Harapan-harapan saya terutama pada siswa bisa lulus ujian, setelah tamat punya keterampilan untuk bekal ke depan, karenanya untuk mewujudkan itu harus ada kerjasama dengan guru-guru di SMK ini, yang kedua harapan terhadap sesama guru yaitu saling mendorong/mendukung untuk ke depannya. Bagaimana menjadi seorang guru yang menjadi tenaga pendidik yang lebih profesional atau lebih baik dan teknologi menjadi salah satu hal pendorong kita menciptakan metode pembelajaran, dari situ kita sama-sama belajar supaya ke depan lebih baik dan kita mempunyai hal baik dalam hal pengajaran siswa.

Pesan terhadap sesama guru: Perintah dari Kepala Sekolah harus kita kerjakan karena tugas atasan adalah tanggung jawab kita sebagai bawahan, meski di luar keahlian atau fak kita sebelumnya, karena hal baru sangat menyenangkan dan tantangan baru buat kita sebagai tenaga pengajar.

B.     Wawancara dengan Teman Sejawat pak Saiful

  1. Identitas :
    1. Nama                            : Nurina
    2. Alamat rumah               : Madiun
    3. Guru mata pelajaran     : BK Magang
  2. Hasil Wawancara :

Menurut pendapat Ibu Nurina yang sudah berteman selama kurang lebih 2 tahun, Pak Saiful ramah, baik, loyal, tetapi saya juga tidak mau sebenarnya menceritakan sesama guru di sini, tetapi menurut pendapat guru-guru lain kurangnya pak Saiful dalam hal sosialisasi dengan sesama guru, sehingga pak Saiful tidak banyak mempunyai teman, mungkin karena dia terlalu sibuk dengan urusan di luar sekolah, ya …… tapi saya maklum karena pak Saiful juga bertanggung jawab atas kedua adiknya, karena orang tua pak Saiful sudah sepuh (tua). di lain hal pak Saifulmasih dirisaukan oleh Tugas Akhirnya pada akhirnya sekarang masih tertunda. Di lain hal pak Saiful juga pernah minta bantuan dalam hal pengajaran di kelas, dan saya selaku teman mendukung dan memberikan bantuan agar dia juga tau bahwa orang-orang di sekitar dia sangat mendukung karirnya, tetapi pak Saiful orangnya cenderung tertutup. Dan dia mempunyai prinsip dia bisa menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan orang lain, dan dia mengejar target mengembangkan bisnis di luar sekolah. Semuanya dilakukan untuk sekolah adik-adiknya dan juga pak Saiful menjadi pemikul perekonomian keluarganya. Jadi sebenarnya pak Saiful bertanggung jawab menurut saya, tetapi agak kurang dalam bersosialisasi, sehingga cenderung mengedepankan keluarganya, karena menurut pak Saiful keluarga sangat penting, karena dia menjadi sekarang ini karena orang tuanya. Dan saya sebagai temannya hanya memberikan dukungan, saya memberikan kritik jika dia membutuhkan kritik saya. Entah diterima atau tidak yang penting kewajiban saya sebagai seorang teman sudah terlaksana. Namun saya bangga mempunyai teman seperti pak Saiful, karena prinsip dia. Pak Saiful bisa membuat ekonomi keluarganya berkecukupan bahkan lebih menurut saya sebagai seorang teman.

C.    Wawancara dengan Teman Jauh pak Saiful

  1. Identitas :
    1. Nama                            : Marwan Utomo
    2. Alamat rumah               : Sugih Waras, Saradan
    3. Guru mata pelajaran     : BK Magang
    4. Tempat tanggal lahir     : 17 Januari 1981
  1. Hasil Wawancara :

Menurut pendapat pak Marwan yang sudah berteman dengan pak Saiful selama 3 tahun. Sebenarnya pak Saiful baik, ramah, sopan tapi hanya sepintas menurut saya dan teman-teman saya yang masih magang di SMK ini, dulu pernah ada kasus atau permasalahan, saya pernah ketahuan minum sama teman-teman saya di luar sekolah, dan ketepatan pak Saiful tahu, besoknya teman saya di sekolah langsung sinis pada saya karena pada waktu kami di kantin sekolah pak Saiful juga pas di kantin, saya merasa disindir-sindir dengan celotehan yang halus tapi saya merasa terpojok karena dia memancing-mancing untuk bilang pada teman-teman saya. Sebenarnya pak Saiful jarang berkumpul dengan teman-teman sesama guru, tetapi dia mesti suka menjelek-jelekkan teman-teman sesama guru yang masih magang di SMK ini, mungkin dia ingin menunjukkan dia yang terbaik, tapi menurut saya itu bersaing tidak sehat karena menjatuhkan temannya karena tahu kejelekan temannya. Sampai sekarangpun saya kurang ya …… dalam hal pertemanan dengan pak Saiful ada permasalahan lagi tentang kasus murid dengan pak Saiful, pak Saiful juga sering naksir murid-murid di SMK ini, buktinya salah satu murid di sini pernah cerita pada saya dan ini bukan rahasia lagi, dan saya tidak takut menceritakan hal semacam ini asal tidak sampai terdengar pada kepala sekolah, karena kepala sekolah di sini kebijakan harus dilaksanakan, aturan harus ditaati.

D.    Wawancara dengan Murid

  1. Identitas :
    1. Nama                      : Titin
    2. Jurusan / Kelas       : Akuntansi / II
    3. Alamat rumah        : Jl. Merdeka no. 21 Mojorejo
  2. Hasil Wawancara :

Menurut penuturan Titin pak Saiful enak dalam mengajar TIK, tapi pak Saiful sering terlambat masuk kelas pada waktu mengajar dan selalu kelihatan lelah pada waktu mengajar tetapi dia berteman cepat dengan saya atau teman-teman saya lainnya. Tetapi yang tidak disukai saya atau teman-teman saya pada waktu ujian praktek jaganya sangat ketat, bahkan tengok sedikit saja langsung coret, dulu saya pernah pinjem flashdisk teman saya pada waktu ujian praktek, niat saya mau simpan hasil ujian saya ke flashdisk teman saya, tetapi pak Saiful tidak mendengarkan alasan saya dulu, saya langsung dicoret, tetapi di lain itu pak Saiful guru yang enak diajak berteman.

A.    Wawancara dengan Murid Alumni SMK yang pernah diajar pak Saiful

  1. Identitas :
    1. Nama                      : Donna
    2. Jurusan                   : Akuntansi
    3. Alamat rumah        : Jl. Garuda no. 6 Mrau Ngampel
  2. Hasil Wawancara :

Menurut saya pak Saiful mudah berteman dengan murid-muridnya, saya dulu juga pernah diajar pak Saiful, kelebihannya pak Saiful mudah akrab dengan murid, tapi dulu pernah ada kejadian pas teman saya yang mengalami, tapi sekarang teman saya bekerja di Surabaya. Pak Saiful dulu sering suka sama teman-teman saya, namanya Sinta, anaknya memang cantik. Tetapi Sinta tidak menanggapinya, karena pada waktu itu Sinta sudah punya pacar. Kekurangannya pak Saiful kurang bisa memberikan batasan antara murid dengan guru, memang saya juga tahu kalau manusia berhak saling suka, tapi selebihnya baik menurut saya. Tetapi kalau pasa ujian penjagaan ujian super ketat pengawasannya, tengok sedikit langsung coret bahkan ke luar kelas. Masalah pengajaran enak pas praktek tapi pas teori di kelas hawanya ngantuk, membosankan pada waktu mengajar di kelas. Kelebihan lainnya selalu senyum dan ramah, jarang marah. Kekurangannya seperti saya jelaskan di atas tadi pada waktu menjaga ujian gak enak ketat pol!

Perbedaan Pendapat Hasil Wawancara :

Bapak Saiful

1)      Proses pengajaran: kalau teori anak cenderung capek, kalau anak lebih suka praktek.

2)      Respon anak pada waktu proses pengajaran: anak pasif disebabkan karena sarana/fasilitas yang agak kurang, karenanya diberi tugas lewat email karena Lab Komputer kurang.

3)      Pemberian nilai siswa anak yang tidak mengerjakan tugas nilainya kosong.

4)      Sosialisasi sesama guru: kurang, karena pak Saiful orang tertutup, bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain, hanya pada waktu proses pemberian materi sering sharing pada guru lain karena keterbatasan dalam pengajaran secara teori.

5)      Hubungan dengan murid: baik tapi harus ada batasan-batasan.

6)      Penjagaan ulangan/ujian siswa: murid ketahuan nyontek nilai dibuat kosong.

Teman Sejawat (Ibu Nurina)

1)      Sosialisasi dengan sesama guru: kurang, karena pak Saiful sibuk dengan urusan di luar sekolah.

2)      Proses pengajaran: kurang dalam pemberian teori karena dulu bukan dari jurusan keguruan tapi teknisi

Teman Jauh sesama guru (Bapak Anwar)

1)      Sosialisasi sesama guru: jarang berkumpul dengan sesama guru tapi meski jarang, sekali bertemu/berkumpul selalu menceritakan kejelekan orang lain.

2)      Hubungan dengan sesama teman guru: kurang baik, karena dia sering kali ingin merasa unggul dari teman-temannya yang lain dan dia ingin menunjukkan kalau dia yang terbaik.

3)      Hubungan dengan murid: tidak/kurang bisa memberikan batasan-batasan pada murid yang diajar.

Murid (Titin)

1)      Waktu pengajaran: sering terlambat masuk kelas.

2)      Proses pengajaran/kondisi pak Saiful waktu mengajar: lelah pada waktu mengajar.

3)      Sosialisasi dengan murid: baik dan cepat bersosialisasi/berbaur.

4)      Penjagaan waktu ujian: ketat.

Murid Alumni SMK (Donna)

1)      Sosialisasi dengan murid: baik, karena mudah berteman/akrab dengan murid.

2)      Hubungan dengan murid: kurang bisa memberikan batasan-batasan antara murid dengan guru.

3)      Pengajaran pak Saiful: ngantuk hawanya kalau diajar pak Saiful.

Namun perbedaan yang paling ketara yaitu pada hubungan sosialisasinya yang kurang baik pada teman yang seumuran pak Saiful. Persaingan yang kurang sehat dengan cara mencari kejelekan atau kelemahan temannya sangat ketara, dan juga tidak bisa menjaga keburukan temannya yang kemudian diumbar pada teman-teman lainnya. Menjadikan hubungan antar teman sebayanya kurang harmonis.

MATERI

A.    Pengertian Kesehatan Mental

Istilah “KESEHATAN MENTAL” di ambil dari konsep mental hygiene. Kata mental di ambil dari bahasa Yunani, pengertiannya sama dengan psyche dalam bahasa latin yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan. Jadi istilah mental hygiene dimaknakan sebagai kesehatan mental atau jiwa yang dinamis bukan statis karena menunjukkan adanya usaha peningkatan. (Notosoedirjo & Latipun, 2001:21).

Zakiah Daradjat (1985:10-14) mendefinisikan kesehatan mental dengan beberapa pengertian :

  1. Terhindarnya orang dari gejala – gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose).
  2. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan di mana ia hidup.
  3. Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagian diri dan orang lain; serta terhindar dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa.
  4. Terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi, dan merasakan secara positif kebahagian dan kemampuan dirinya.

Dengan berpijak pada pengertian di atas, kesehatan mental menurut saya adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa serta mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain maupun dengan masayarakat di mana seseorang itu berada dan bisa mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin untuk mewujudkan suatu keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi, dan merasakan secara positif kebahagian dan kemampuan dirinya sendiri. Kategori atau Penggolongan Kesehatan Mental, yaitu :

  1. Gangguan Somatofarm

Gejalanya bersifat fisik, tetapi tidak terdapat dasar organic dan factor-faktor psikologis.

  1. Gangguan Disosiatif

Perubahan sementara fungsi-fungsi kesadaran, ingatan, atau identitas yang disebabkan oleh masalah emosional.

  1. Gangguan Psikoseksual

Termasuk masalah identitas seksual (impotent, ejakulasi, pramatang, frigiditas) dan tujuan seksual.

  1. Kondisi yang tidak dicantumkan sebagai gangguan jiwa.

Mencakup banyak masalah yang dihadapi orang-orang yang membutuhkan pertolongan seperti perkawinan, kesulitan orang tua, perlakuan kejam pada anak.

  1. Gangguan Kepribadian

Pola perilaku maladaptik yang sudah menahun yang merupakan cara-cara yang tidak dewasa dan tidak tepat dalam mengatasi stres atau pemecahan masalah.

  1. Gangguan yang terlihat sejak bayi, masa kanak-kanak atau remaja

Meliputi keterbelakangan mental, hiperaktif, emosi pada kanak-kanak, gangguan dalam hal makan.

  1. Gangguan jiwa organik

Terdapat gejala psikologis langsung terkait dengan luka pada otak atau keabnormalan lingkungan biokimianya sebagai akibat dari usia tua dan lain-lain.

  1. Gangguan penggunaan zat-zat

Penggunaan alkohol berlebihan, obat bius, anfetamin, kokain, dan obat-obatan yang mengubah prilaku.

  1. Gangguan Skisofrenik

Serangkaian gangguan yang dilandasi dengan hilangnya kontak dengan realitas, sehingga pikiran, persepsi, dan perilaku kacau dan aneh.

  1. Gangguan Paranoid

Gangguan yang ditandai dengan kecurigaan dan sifat permusuhan yang berlebihan disertai perasaan yang dikejar-kejar.

  1. Gangguan Afektif

Gangguan suasana hati (mood) yang normal, penderita mungkin mengalami depresi yang berat, gembira yang abnormal, atau berganti antara saat gembira dan depresi.

  1. Gangguan Kecemasan

Gangguan dimana rasa cemas merupakan gejala utama atau rasa cemas dialami bila individu tidak menghindari situasi-situasi tertentu yang ditakuti.

B.     Hal/Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental Manusia, Internal dan Eksternal – Psikologi

Mental sehat manusia dipengaruhi oleh faktor internal dan external. Keduanya saling mempengaruhi dan dapat menyebabkan mental yang sakit sehingga bisa menyebabkan gangguan jiwa dan penyakit jiwa.

  1. 1.      Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang seperti sifat, bakat, keturunan dan sebagainya. Contoh sifat yaitu seperti sifat jahat, baik, pemarah, dengki, iri, pemalu, pemberani, dan lain sebagainya. Contoh bakat yakni misalnya bakat melukis, bermain musik, menciptakan lagu, akting, dan lain-lain. Sedangkan aspek keturunan seperti turunan emosi, intelektualitas, potensi diri, dan sebagainya.

  1. 2.      Faktor Eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor yang berada di luar diri seseorang yang dapat mempengaruhi mental seseorang. Lingkungan eksternal yang paling dekat dengan seorang manusia adalah keluarga seperti orang tua, anak, istri, kakak, adik, kakek-nenek, dan masih banyak lagi lainnya.

Faktor luar lain yang berpengaruh yaitu seperti hukum, politik, sosial budaya, agama, pemerintah, pendidikan, pekerjaan, masyarakat, dan sebagainya. Faktor eksternal yang baik dapat menjaga mental seseorang, namun faktor external yang buruk / tidak baik dapat berpotensi menimbulkan mental tidak sehat.

C.    Teori Kepribadian Sehat

  1. Perbedaan antara Aliran Psikoanalisa, Behavioristik, dan Humanistik
  1. a.     Aliran Psikoanalisa

Teori kepribadian dengan pendekatan psikodinamika sangat dipengaruhi oleh Sigmund Freud (1856-1939), Bapak Psikoanalisa yang sangat terkenal. Aliran ini melihat dari sisi negative individu, masa lalu, analisis mimpi (jalan istimewa menuju ketidaksadaran), dan juga alam bawah sadar, yang tersusun dari 3 sistem pokok yaitu : id, ego, dan superego.

(1)   Id

Id merupakan system kepribadian yang asli dan merupakan sumber energi utama bagi hidup manusia. Id merupakan rahim tempat ego dan superego berkembang. Freud menyebut id “kenyataan psikis yang sebenarnya”, karena id mempresentasikan dunia batin pengalaman subjektif dan tidak mengenal kenyataan objektif. Id terdiri dari dorongan-dorongan biologis dasar seperti kebutuhan makan, minum, seks, dan agresifitas.

Dalam Id terdapat dua jenis energi yang saling bertentangan dan sangat mempengaruhi kehidupan individu, yaitu insting kehidupan dan insting mati. Dorongan-dorongan dalam Id selalu ingin dipuaskan, dan dalam pemuasannya Id selalu berupaya menghindari pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan (prinsip kesenangan atau Pleasure Principle).

(2)   Ego

Ego merupakan energi yang mendorong untuk mengikuti prinsip kenyataan. Ego menjalankan fungsi pengendalian agar upaya pemuasan dorongan Id itu realistis atau sesuai dengan kenyataan. Misalnya orang yang lapar harus mencari, menemukan, dan memakan makanan sampai tegangan karena merasa lapar dapat dihilangkan.

(3)   Superego

Sistem kepribadian ketiga dan yang terakhir dikembangkan adalah superego. Superego adalah gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanamkan oleh adapt istiadat, agama, orangtua, guru, dan orang lain kepada anak. Karena itu pada dasrnya superego adalah hati nurani seseorang yang menilai benar atau salahnya tindakan seseorang. Itu berarti superego mewakili nilai-nilai ideal dan selalu berorientasi pada kesempurnaan.

Freud juga membagi aktivitas mental individu dalam beberapa tingkatan berdasarkan sejauh mana individu menyadari gejala-gejala psikis yang timbul, yaitu :

1)   Tingkat sadar atau kesadaran (conscious level)

Pada tingkat ini aktivitas mental dapat disadari setiap saat seperti berpikir, persepsi, dan lain-lain.

2)   Tingkat prasadar (preconscious level)

Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis yang timbul bias disadari hanya apabila individu memperhatikannya, misalnya memori, pengetahuan-pengetahuan yang telah dipelajari, dan lain-lain.

3)   Tingkat tidak disadari (unconscious level)

Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis tidak disadari oleh individu. Gejala-gejala ini muncul misalnya dalam dorongan-dorongan immoral, pengalaman-pengalaman yang memalukan, harapan-harapan yang irasional, dorongan-dorongan seksual yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, dan lain-lain. Tingkat tidak disadari inilah yang merupakan objek studi psikoanalisa. Dikatakan Freud pada tahun 1942 : “tujuan utama psikoanalisa sebenarnya tidak lebih dari mencapai dan dapat mengungkap kehidupan mental yang tidak disadari”. Teori Freud sendiri kemudian banyak mengalami perkembangan baik oleh dirinya sendiri maupun oleh para pengikutnya seperti : Alfred Adler, Karen Horney, Erick Fromm, dan lain-lain. Perubahan penting yang dilakukannya sendiri adalah konsep libido. Awalnya libido dianggap berasal dari dorongan seksual semata, tetapi akhirnya Freud berpendapat bahwa libido merupakan dorongan kehidupan yang jauh lebih luas daripada dorongan seksual semata. Karen Horney dan Erick Fromm menekankan pentingnya pengaruh lingkungan social terhadap perkembangan kepribadian individu.

Jadi dapat disimpulkan bahwa menurut aliran psikoanalisa manusia bersifat terbatas, yaitu mengabaikan potensi-potensi yang dimiliki manusia. Manusia dilihat dari sisi sakit, yaitu bahwa kodrat manusia bersifat negative (neurotics dan psikotis), dan juga kodrat manusia digambarkan pesimistis, yaitu manusia adalah korban dari tekanan-tekanan biologis dan juga konflik-konflik pada masa kanak-kanak.

  1. b.      Aliran Behavioristik

Teori kepribadian behaviristik bertolak dari dan menekankan pengaruh lingkungan atau keadaan situasional terhadap perilaku. Tokoh-tokohnya adalah Rotter, Dollard, Miller, dan Bandura. Para ahli tarsebut berpendapat bahwa perilaku merupakan hasil interaksi yang terus menerus antara variable-variabel pribadi dengan lingkungan. Dengan demikian individu dan situasi saling mempengaruhi.

Teori belajar yang dianut oleh Dollard dan Miller menekankan pada konsep kebiasaan. Kebiasaan adalah pertautan atau asosiasi antara suatu stimulus (isyarat) dan suatu respons. Asosiasi-asosiasi atau kebiasaan-kebiasaan yang dipelajari tidah hanya terbentik dari stimulus-stimulus eksternal dan respon-respon terbuka, tetapi juga antara stimulus-stimulus dan respon-respon internal.

Jadi pola perilaku dibentuk berdasarkan suatu proses kondisioning. Orang-orang disekitar individu membentuk perilakunya dengan ganjaran dan hukuman. Disini terjadi pembentukan pola perilaku dan penguatan melalui pengalaman langsung, tetapi perilaku juga dapat terbentuk melalui pengalaman tidak langsung yaitu melalui pengalamn terhadap perilaku orang lain disekitarnya (modeling).

Para teoritisi behavioristik beranggapan bahwa perilaku seseorang itu ditentukan oleh cirri khusus dari situasi yang dihadapi, misalnya situasinya di kelas atau di lapangan bola, penafsiran individu terhadap situasi tersebut (pantas atau tidak melakukan agresi), penguatan yang dialami pada tingkah lakunya dalam situasi serupa (dihukum atau dipuji).

Jadi dapat disimpulkan bahwa menurut aliran behavioristik manusia adalah suatu system kompleks yang bertingkah laku dengan cara yang sesuai dengan hukum. Ciri-cirinya tersusun dengan baik, teratur, banyak spontanitas, kegembiraan hidup dan juga kreativitas. Manusia dianggap terbiasa dalam memberikan respons positif terhadap stimulus dari luar sehingga manusia diangggap tidak memiliki sikap diri sendiri karena potensi yang dimiliki manusia diabaikan.

  1. c.     Aliran Humanistik

Aliran humanistik memberi tekanan pada kualitas-kualitas yang membedakan menusia dengan binatang, yaitu kebebasan untuk memilih (freedom for choice) dan kemampuan untuk mengarahkan pekembangannya sendiri (self-direction). Banyak ahli menyebut teori tersebut sebagai “self-theorities” karena teori-teori tersebut membahas pengalaman-pengalaman batin, pribadi, yang berpengaruh terhadap proses pendewasaan diri seseorang, dan pertumbuhan itu diarahkan pada aktualisasi diri. Tokoh-tokoh utama pendekatan ini adalah Carl Rogers dan Abraham Maslow.

Pada tahun 1962 didirikan Association of Humanistic Psychology, asosiasi ini dalam misinya mempunyai 4 (empat) prinsip, yakni :

1). Memusatkan perhatian pada subjek yang mengalami.

2). Pilihan, kreativitas, dan aktualisasi diri manusia adalah topic-topik yang menjadi focus penelitiannya.

3). Kepenuhartian harus mendahului objektivitas dalam memilih masalah penelitian.

4). Nilai tertinggi terletak pada martabat manusia.

  1. Carl Rogers (1902-1987)

Teori Carl Rogers berkembang dari pendekatannya terhadap psikoterapi dan perubahan perilaku yang berpusat pada klien. Dalam praktiknya Rogers terkesan dengan adanya kecenderungan bawaan pada individu yang bergerak kearah pertumbuhan, maturitas, dan perubahan positif. Maka ia yakin bahwa kekuatan dasar yang memotivasi manusia adalah kecenderungan untuk beraktualisasi, suatu kecenderungan kearah pemenuhan atau aktualisasi semua potensi atau kapasitas organisme. Rogers tidak menolak adanya kebutuhan lain seperti kebutuhan biologis, tetapi semua kebutuhan itu terarah pada motivasi untuk mengaktualisasikan dirinya.

Diri dan Konsep diri penting dalam teorinya. Diri itu mencakup semua ide, persepsi, dan nilai-nilai yang mengkarakterisasi “saya” atau “aku” dan ini mencakup “siapa saya” dan “apa yang dapat saya lakukan”. Selanjutnya diri dan konsep diri ini mempengaruhi persepsi seseorang tentang dunia dan perilakunya.

  1. Abraham Maslow (1908-1970)

Teori motivasi Abraham Maslow didasarkan pada hierarki kebutuhan yang meningkat dari kebutuhan biologis sampai dengan puncaknya adalah kebutuhan aktualisasi diri yang hanya dapat dipenuhi setelah semua kebutuhan dibawahnya telah dipenuhi.

Maslow meneliti self-actualizer pria dan wanita yang telah memanfaatkan potensinya secara luar biasa. Secara khusus dia mempelejari kehidupan tokoh-tokoh histories yang menonjol seperti Spinoza, Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, Jane Adam, Albert Einstein, dan Eleanor Rosevelt. Dengan cara ini ia mampu menyimpulkan mengenai gambaran perilaku yang diyakininya dapat menghasilkan aktualisasi diri.

Jadi dapat disimpulkan bahwa aliran humanistic menganggap setiap orang memiliki kemampuan untuk menjadi lebih baik, optimis, dan memiliki harapan menjadi lebih baik dengan mengaktualisasikan dirinya. Melihat potensi untuk tumbuh menjadi lebih baik, optimis, percaya pada kapasitas individu untuk mengembangkan diri sesuai dengan yang diinginkan menurut kemampuannya. Tiadak mengabaikan kodrat individu secara kodrat biologis dan cirri lingkungan (bahavioristik), individu pasti dapat mengatasi konflik pada masa lampau (psikoanalisa), dan mengembangkan potensi-potensi melampaui kekuatan-kekuatan negative yang menghambat (humanistic). Dan tidak hanya terbebas dari penyakit emosional saja individu dapat dikatakan sebagai pribadi yang sehat, tetapi diperlukan pengembangan yang lebih jauh lagi.

  1. Kritikan Humanistik terhadap Psikoanalisa dan Behavioristik
  1. a.     Terhadap Psikoanalisa

Manusia hanya dipandang dari sisi yang negatifnya saja, sehingga potensi-potensi yang sebenarnya dimiliki oleh manusia diabaikan. Sisi sakit emosional manusia (neurotics dan psikotis) dianggap sebagai kodrat manusia yang pesimistis, sehingga manusia dianggap korban dari tekanan-tekanan biologis dan juga konflik pada masa kanak-kanak.

  1. b.    Terhadap Behavioristik

Manusia diperlakukan layaknya separti mesin yang tingkah lakunya tersusun baik, teratur, dan sudah ditentukan sebelumnya sehingga potensi-potensi yang dimiliki manusia diabaikan. Manusialah yang diangggap memberikan respons positif terhadap stimulus dari luar, sehingga manusia tidak mempunyai sikap diri sendiri. Karena behavioristik terlalu menekankan pengaruh lingkungan atau kondisi-kondisi situasional dari perilaku maka kepribadian sudah kehilangan pribadi (person)nya.

DAFTAR PUSTAKA

Basuki, A.M. Heru. 2008. Psikologi Umum.. Jakarta : Guna Darma.

Hall, Calvin S and Lindzey, G. 1993. Teori-teori Psikodonamik (klinis). Terjemahan: Yustinus. Yogyakarta : KANISUS.

Hall, Calvin S and Lindzey, G. 1993. Teori-teori Sifat dan Behavioristik. Terjemahan: Yustinus. Yogyakarta : KANISUS.

Suryabrata, S. 2003. Psikologi Kepribadian.. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

About Gebrielleizious

Hello My Name is Gabriella Yudithia I was born in August 12 I'm student in Widya Mandala University-Madiun NICE TO MEET YOU.... :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s